Phnom Penh: The Pearl of
Asia
Perjalanan kurang lebih
lima jam dari Incheon, Korea Selatan ke Phnom Penh, Cambodia begitu cepat
berlalu. Pesawat Korean Airlines KE 689 mendarat mulus tepat pukul 22:15 di
bandara International Phnom Penh. Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke kota
Phnom Penh ibukota, negara Cambodia. Sebelum mendarat pramugari membagikan
kertas kedatangan yang harus kami isi. Are you Cambodian? No, I am Indonesian.
You don’t need to write this visa application form. Saya selalu senang setiap
kali berpergian ke negara ASEAN karena tidak ribet dengan urusan visa.Pesawat
Airbus ini penuh dengan para penumpang yang sebagian besar adalah turis dari
manca negara. Tidak banyak wajah orang Asia Tenggara yang saya lihat dalam
pesawat. Menurut salah seorang murid saya dari Cambodia, sepanjang tahun turis
selalu berdatangan ke Cambodia terutama mereka ingin melihat Angkor Wat yang
terletak di kota Siem Reap, satu jam perjalanan dengan pesawat dari Phnom Penh
atau enam jam naik bus. Walaupun tidak sepopuler Siem Reap, banyak kegiatan
yang bisa dilakukan di kota Phnom Penh.Setelah urusan imigrasi selesai, saya
bertemu dengan Mr. Chhenghow Pay kolega saya dari University of Cambodia yang
khusus menjemput saya pada malam hari ini. Sebuah mobil toyota hybrid berwarna
abu-abu membawa kami ke daerah River View tempat dimana saya menginap. Dalam
perjalanan ke hotel, Mr. Chhenghow berkata bahwa Phnom Penh tidaklah besar dan
dalam dua atau tiga hari saya dapat menjelajahi semua tempat wisata di kota
ini. Paling mudah adalah dengan naik Tuk-Tuk, kendaraan beroda tiga.
Di jalan saya melihat
banyak sekali mobil mewah di samping tentunya sepeda motor. Beliau menjelaskan
bahwa banyak mobil bekas dari Jepang dan Korea yang dijual di Cambodia dan
mereka tidak perlu membayar pajak. Dengan perekonomian yang semakin berkembang,
saat ini banyak masyarakat yang mampu membeli mobil. Namun demikian, gap antara
orang kaya dan miskin masih sangat besar. Hal ini bisa dilihat secara nyata
besok ketika mengunjungi beberapa tempat di dalam kota, kata Mr. Chhenghow.
Dua puluh menit
perjalanan sampailah saya ke hotel tempat saya menginap. Sebuah butik hotel
yang terletak di daerah River View dan menghadap ke sungai Mekong ini sangat
bagus. Ormanen bergaya Perancis dapat saya temui ketika memasuki hotel ini.
Dalam sejarahnya Cambodia menjadi daerah Protectoral Perancis dari tahun 1863
sampai 1953. Cambodia meraih kemerdekaan dari negara ini pada tanggal 9
November 1953. Tidaklah berlebihan jika budaya Perancis masih dapat kita
rasakan di negara berpenduduk 14 juta jiwa yang mayoritas beragama Budha.
Kesibukan di sebuah kuil
Budha pagi hari
Sesudah itu, kami keluar
untuk mencari udara segar di sekitar hotel. River View adalah daerah pusat
turis di Cambodia. Di sepanjang jalan banyak kami jumpai café dan restauran
yang masih penuh sesak dengan orang-orang. Mr. Chhenghow menjelaskan bahwa
daerah ini tidak pernah mati. Banyak orang Cambodia yang khusus datang ke sini
untuk menikmati indahnya sungai Mekong di malam hari. Sepeda motor dan Tuk-Tuk
berjejer rapi di sepanjang jalan 2 kilometer ini. Mereka juga siap mengantarkan
para wisatawan berkeliling kota pada malam hari. Sesudah membayar kopi sebesar
8 dolar untuk tiga orang saya kembali berjalan kaki ke hotel. Mata uang
Cambodia adalah Ril dan 1 dolar sekitar 4,000 Ril. Sebagian besar mereka
menggunakan dolar.
Hari berikutnya saya
mulai menjelajah Cambodia dengan Tuk-Tuk. Saya sangat terkesan dengan pengemudi
Tuk-Tuk yang lancar berbicara bahasa Inggris. Pada hari tersebut saya juga
mengunjungi dua universitas yaitu University of Cambodia and Royal University
of Phnom Phen. Kunjungan singkat kedua universitas ini menyimpan kenangan yang
mendalam bagi saya. Hampir sebagian besar mahasiswa dapat berbicara Inggris
dengan bagus. Selain itu yang paling membuat saya berkesan adalah hampir
sebagian besar dari mereka mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Dua
modal dasar untuk membuat negara ini lebih maju. Lewat pendidikan yang baiklah
negara ini akan sejajar dengan negara lain di ASEAN.
Tuk Tuk: alat
transportasi lokal
Pada sore harinya saya
berkeliling kota Phnom Penh. Negara ini memang sedang membangun. Banyak bangunan
baru yang saya temui di wilayah kota. Mereka juga punya sebuah Department Store
yang besar yang tidak hanya menjual merek-merek lokal tetapi juga mereka
internasional. Economic Institute of Cambodia menyebutkan bahwa GDP saat ini
berkisar USD 15,000 dengan tingkat pertumbuhan GDP sebesar 6.7% setiap tahun.
Angka pertumbuhan yang sangat baik. Diprediksikan juga bahwa pertumbuhan
ekonomi akan terus naik di masa yang akan datang.
Puas dengan berkeliling
kota, saya sempatkan untuk mencoba makanan Cambodia atau lebih dikenal dengan
nama Khmer Cuisine. Tidaklah sulit menemukan restauran atau warung yang menjual
makanan ini. Makanan Cambodia hampir sama dengan makanan di Thailand dan China
karena sejarah dari negeri itu sendiri yang merupakan bagian dari Indochina.
Saya sendiri mencoba Amok makanan serupa pepes tetapi daunnya dibuka. Rasanya
enak seperti makanan Indonesia juga. Sambil makan saya mengamati sekeliling
orang yang makan pada malam hari tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah orang
Cambodia yang baru selesai bekerja. Jam kerja di Cambodia hampir sama dengan di
Indonesia yaitu dari jam sembilan pagi sampai lima sore.
Royal Palace
Keesokan harinya, saya
sengaja untuk bangun pagi sekali untuk pergi ke pasar tradisional yang terletak
di belakang hotel dan juga mengambil foto terbitnya matahari. Ternyata
masyarakat Cambodia mengawali hari pagi-pagi sekali. Tepat jam 5 pagi, banyak
masyarakat yang sudah berolahraga di pinggir jalan. Umumnya mereka melakukan
senam pagi secara berkelompok dan dipandu oleh seorang instruktur. Menurut
petugas hotel kelompok masyarakat ini melakukan kegiatannya dua kali sehari.
Pertama sebelum matahari terbit dan yang kedua adalah sebelum matahari
terbenam. Mereka berdatangan dari mana-mana. Hal ini sangat menarik karena
membuat kota menjadi penuh pada pagi hari dan sore hari.
Untuk melihat terbitnya
matahari, saya berkunjung ke Royal Palace yang letaknya hanya 10 menit jalan
kaki dari hotel. Di depan tempat ini ada dua kuil kecil dimana orang dapat
melakukan sembahyang. Tidak pernah saya duga sebelumnya tempat ini sudah
dipenuhi oleh orang-orang. Hari ini bukan akhir minggu tetapi hari biasa.
Mereka dengan sabar antri untuk menyalakan dupa dan juga membeli bunga untuk
persembahan. Sebagian juga membeli burung kecil yang kemudian dilepas setelah
berdoa. Seperti umat Islam yang sholat pada pagi hari, umat Budha Cambodia juga
sudah mulai berdoa pada pagi hari.
Royal Palace yang
terletak di pusat kota ini begitu megah. Warna kuning keemasan seakan menjadi
simbol keindahan tempat ini. Di depan Royal Palace banyak orang juga sedang
berolahraga sambil menunggu matahari terbit. Akhirnya tepat jam 06:30 matahari
terbit dengan indahnya. Sinar matahari menjadi awal dimulai kegiatan pada pagi
hari ini. Sesudah itu, saya sempatkan pergi ke pasar untuk membeli buah-buahan
segar. Siangnya saya berkunjung ke Norton University dan bertemu dengan Prof.
Chan Sok Khieng, President universitas tersebut.
Burung-burung
berterbangan di depan Royal Palace
Sekali lagi saya
terkejut dengan kemampuan mahasiswa di Cambodia yang dapat berbahasa Inggris
dengan baik. Prof. Chan mengatakan bahwa di Cambodia pada tahun pertama banyak
siswa yang hanya belajar bahasa: undecided major. Pada tahun kedua mereka baru
memutuskan untuk belajar major mereka seperti ekonomi, teknik, atau jurusan
lain. Dalam kesempatan tersebut beliau memberikan selendang sebagai lambang
persahabatan Korea dan Cambodia. Ini adalah tradisi yang biasa dilakukan di
Cambodia untuk menghormati tamu.
Pada hari tersebut
sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia, saya sempatkan berkunjung ke tempat
wisata-wisata lain seperti National Museum, Wat Phnomp, Central Market dan
Independece Monument. Semua bangunan tersebut sangatlah indah. Tidaklah
berlebihan jika jika Phomp Penh dijuluki juga sebagai Pearl of Asia: sebuah
kota yang menawarkan wisata bangunan bersejarah dan arsitektur bergaya
Perancis. Kunjungan singkat selama tiga hari di negara Cambodia ini sangatlah
berkesan dan memberikan energi positif bagi saya. Kedepannya motivasi tinggi
untuk belajar akan menjadikan negara ini lebih dari sekedar Pearl of Asia. Phnom Penh: The Pearl of Asia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar