Minggu, 08 Desember 2013

Phnom Penh: The Pearl of Asia

Phnom Penh: The Pearl of Asia
Perjalanan kurang lebih lima jam dari Incheon, Korea Selatan ke Phnom Penh, Cambodia begitu cepat berlalu. Pesawat Korean Airlines KE 689 mendarat mulus tepat pukul 22:15 di bandara International Phnom Penh. Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke kota Phnom Penh ibukota, negara Cambodia. Sebelum mendarat pramugari membagikan kertas kedatangan yang harus kami isi. Are you Cambodian? No, I am Indonesian. You don’t need to write this visa application form. Saya selalu senang setiap kali berpergian ke negara ASEAN karena tidak ribet dengan urusan visa.Pesawat Airbus ini penuh dengan para penumpang yang sebagian besar adalah turis dari manca negara. Tidak banyak wajah orang Asia Tenggara yang saya lihat dalam pesawat. Menurut salah seorang murid saya dari Cambodia, sepanjang tahun turis selalu berdatangan ke Cambodia terutama mereka ingin melihat Angkor Wat yang terletak di kota Siem Reap, satu jam perjalanan dengan pesawat dari Phnom Penh atau enam jam naik bus. Walaupun tidak sepopuler Siem Reap, banyak kegiatan yang bisa dilakukan di kota Phnom Penh.Setelah urusan imigrasi selesai, saya bertemu dengan Mr. Chhenghow Pay kolega saya dari University of Cambodia yang khusus menjemput saya pada malam hari ini. Sebuah mobil toyota hybrid berwarna abu-abu membawa kami ke daerah River View tempat dimana saya menginap. Dalam perjalanan ke hotel, Mr. Chhenghow berkata bahwa Phnom Penh tidaklah besar dan dalam dua atau tiga hari saya dapat menjelajahi semua tempat wisata di kota ini. Paling mudah adalah dengan naik Tuk-Tuk, kendaraan beroda tiga.

Di jalan saya melihat banyak sekali mobil mewah di samping tentunya sepeda motor. Beliau menjelaskan bahwa banyak mobil bekas dari Jepang dan Korea yang dijual di Cambodia dan mereka tidak perlu membayar pajak. Dengan perekonomian yang semakin berkembang, saat ini banyak masyarakat yang mampu membeli mobil. Namun demikian, gap antara orang kaya dan miskin masih sangat besar. Hal ini bisa dilihat secara nyata besok ketika mengunjungi beberapa tempat di dalam kota, kata Mr. Chhenghow.

Dua puluh menit perjalanan sampailah saya ke hotel tempat saya menginap. Sebuah butik hotel yang terletak di daerah River View dan menghadap ke sungai Mekong ini sangat bagus. Ormanen bergaya Perancis dapat saya temui ketika memasuki hotel ini. Dalam sejarahnya Cambodia menjadi daerah Protectoral Perancis dari tahun 1863 sampai 1953. Cambodia meraih kemerdekaan dari negara ini pada tanggal 9 November 1953. Tidaklah berlebihan jika budaya Perancis masih dapat kita rasakan di negara berpenduduk 14 juta jiwa yang mayoritas beragama Budha.
Kesibukan di sebuah kuil Budha pagi hari
Sesudah itu, kami keluar untuk mencari udara segar di sekitar hotel. River View adalah daerah pusat turis di Cambodia. Di sepanjang jalan banyak kami jumpai café dan restauran yang masih penuh sesak dengan orang-orang. Mr. Chhenghow menjelaskan bahwa daerah ini tidak pernah mati. Banyak orang Cambodia yang khusus datang ke sini untuk menikmati indahnya sungai Mekong di malam hari. Sepeda motor dan Tuk-Tuk berjejer rapi di sepanjang jalan 2 kilometer ini. Mereka juga siap mengantarkan para wisatawan berkeliling kota pada malam hari. Sesudah membayar kopi sebesar 8 dolar untuk tiga orang saya kembali berjalan kaki ke hotel. Mata uang Cambodia adalah Ril dan 1 dolar sekitar 4,000 Ril. Sebagian besar mereka menggunakan dolar.

Hari berikutnya saya mulai menjelajah Cambodia dengan Tuk-Tuk. Saya sangat terkesan dengan pengemudi Tuk-Tuk yang lancar berbicara bahasa Inggris. Pada hari tersebut saya juga mengunjungi dua universitas yaitu University of Cambodia and Royal University of Phnom Phen. Kunjungan singkat kedua universitas ini menyimpan kenangan yang mendalam bagi saya. Hampir sebagian besar mahasiswa dapat berbicara Inggris dengan bagus. Selain itu yang paling membuat saya berkesan adalah hampir sebagian besar dari mereka mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Dua modal dasar untuk membuat negara ini lebih maju. Lewat pendidikan yang baiklah negara ini akan sejajar dengan negara lain di ASEAN.
Tuk Tuk: alat transportasi lokal
Pada sore harinya saya berkeliling kota Phnom Penh. Negara ini memang sedang membangun. Banyak bangunan baru yang saya temui di wilayah kota. Mereka juga punya sebuah Department Store yang besar yang tidak hanya menjual merek-merek lokal tetapi juga mereka internasional. Economic Institute of Cambodia menyebutkan bahwa GDP saat ini berkisar USD 15,000 dengan tingkat pertumbuhan GDP sebesar 6.7% setiap tahun. Angka pertumbuhan yang sangat baik. Diprediksikan juga bahwa pertumbuhan ekonomi akan terus naik di masa yang akan datang.

Puas dengan berkeliling kota, saya sempatkan untuk mencoba makanan Cambodia atau lebih dikenal dengan nama Khmer Cuisine. Tidaklah sulit menemukan restauran atau warung yang menjual makanan ini. Makanan Cambodia hampir sama dengan makanan di Thailand dan China karena sejarah dari negeri itu sendiri yang merupakan bagian dari Indochina. Saya sendiri mencoba Amok makanan serupa pepes tetapi daunnya dibuka. Rasanya enak seperti makanan Indonesia juga. Sambil makan saya mengamati sekeliling orang yang makan pada malam hari tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah orang Cambodia yang baru selesai bekerja. Jam kerja di Cambodia hampir sama dengan di Indonesia yaitu dari jam sembilan pagi sampai lima sore.

Royal Palace
Keesokan harinya, saya sengaja untuk bangun pagi sekali untuk pergi ke pasar tradisional yang terletak di belakang hotel dan juga mengambil foto terbitnya matahari. Ternyata masyarakat Cambodia mengawali hari pagi-pagi sekali. Tepat jam 5 pagi, banyak masyarakat yang sudah berolahraga di pinggir jalan. Umumnya mereka melakukan senam pagi secara berkelompok dan dipandu oleh seorang instruktur. Menurut petugas hotel kelompok masyarakat ini melakukan kegiatannya dua kali sehari. Pertama sebelum matahari terbit dan yang kedua adalah sebelum matahari terbenam. Mereka berdatangan dari mana-mana. Hal ini sangat menarik karena membuat kota menjadi penuh pada pagi hari dan sore hari.

Untuk melihat terbitnya matahari, saya berkunjung ke Royal Palace yang letaknya hanya 10 menit jalan kaki dari hotel. Di depan tempat ini ada dua kuil kecil dimana orang dapat melakukan sembahyang. Tidak pernah saya duga sebelumnya tempat ini sudah dipenuhi oleh orang-orang. Hari ini bukan akhir minggu tetapi hari biasa. Mereka dengan sabar antri untuk menyalakan dupa dan juga membeli bunga untuk persembahan. Sebagian juga membeli burung kecil yang kemudian dilepas setelah berdoa. Seperti umat Islam yang sholat pada pagi hari, umat Budha Cambodia juga sudah mulai berdoa pada pagi hari.

Royal Palace yang terletak di pusat kota ini begitu megah. Warna kuning keemasan seakan menjadi simbol keindahan tempat ini. Di depan Royal Palace banyak orang juga sedang berolahraga sambil menunggu matahari terbit. Akhirnya tepat jam 06:30 matahari terbit dengan indahnya. Sinar matahari menjadi awal dimulai kegiatan pada pagi hari ini. Sesudah itu, saya sempatkan pergi ke pasar untuk membeli buah-buahan segar. Siangnya saya berkunjung ke Norton University dan bertemu dengan Prof. Chan Sok Khieng, President universitas tersebut.
Burung-burung berterbangan di depan Royal Palace
Sekali lagi saya terkejut dengan kemampuan mahasiswa di Cambodia yang dapat berbahasa Inggris dengan baik. Prof. Chan mengatakan bahwa di Cambodia pada tahun pertama banyak siswa yang hanya belajar bahasa: undecided major. Pada tahun kedua mereka baru memutuskan untuk belajar major mereka seperti ekonomi, teknik, atau jurusan lain. Dalam kesempatan tersebut beliau memberikan selendang sebagai lambang persahabatan Korea dan Cambodia. Ini adalah tradisi yang biasa dilakukan di Cambodia untuk menghormati tamu.


Pada hari tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke Malaysia, saya sempatkan berkunjung ke tempat wisata-wisata lain seperti National Museum, Wat Phnomp, Central Market dan Independece Monument. Semua bangunan tersebut sangatlah indah. Tidaklah berlebihan jika jika Phomp Penh dijuluki juga sebagai Pearl of Asia: sebuah kota yang menawarkan wisata bangunan bersejarah dan arsitektur bergaya Perancis. Kunjungan singkat selama tiga hari di negara Cambodia ini sangatlah berkesan dan memberikan energi positif bagi saya. Kedepannya motivasi tinggi untuk belajar akan menjadikan negara ini lebih dari sekedar Pearl of Asia.Phnom Penh: The Pearl of Asia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar