Tempat Wisata Phnom Penh
Saat berhenti itu
menunjukkan waktu sekitar jam 11 siang, belum waktunya untuk makan siang.
Sehingga waktu istirahat sebentar itu saya gunakan untuk menelusuri pasar.
Banyak toko kelontong dan toko obat selain toko tekstil dan pakaian jadi. Saya
mencoba untuk membeli barang yang saya tunjuk langsung ke lemarinya dan
tersenyum pasrah ketika diajak berbahasa Khmer, seorang siswa yang saya perkirakan
selevel SMP tersenyum membantu menerjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Senyum
memang universal. Transaksi terjadi dengan berawal dari senyum. Dan bedanya
dengan Siem Reap, di kota kecil ini, uang Riel lebih diterima daripada US
Dollar Notes.
Tidak lama saya kembali
ke tempat menunggu bus dan terlibat pembicaraan dengan para penumpang lain
hanya gara-gara seekor tikus besar menabrak kaki saya. Hiiiii…. Ternyata
sebelumnya memang pemilik toko di belakang tempat saya berdiri sedang
mengejar-ngejar tikus dan tikus itu bersembunyi di dekat kaki tanpa setahu
saya. Suara keras dari tongkat mungkin memberi kepanikan bagi si tikus sehingga
dia keluar dari persembunyiannya dan sempat menabrak kaki saya yang mungkin
menghalangi larinya. Untungnya kejadian itu sangat cepat berlangsung, dalam
hitungan detik. Ekor mata saya hanya melihat sekelebat benda hitam di kaki
saya. Seandainya saya lihat tikusnya, tentu saya akan lompat-lompat kangguru
saking geli dan takutnya.
Saya sempat terlibat
dalam pembicaraan asik dengan salah satu penumpang yang juga sedang berdiri
menunggu busnya, yang menuju ke Siem Reap. Dia, warganegara asli Cambodia,
merupakan tenaga pendidik dari sebuah LSM yang secara periodik mengunjungi
wilayah-wilayah terpencil untuk mengajar Bahasa Inggeris. Saya dibuat kagum
oleh ceritanya mengenai semangat murid-muridnya untuk belajar Bahasa Inggeris
dengan kondisi seadanya. Saya langsung jadi teringat kondisi pendidikan dasar
di negeri kita, di daerah-daerah terpencil. Rasanya saya tidak yakin Bahasa Inggeris
diajarkan di tempat-tempat terpencil pada level pendidikan dasar (SD).
Berbeda dengan
pemandangan indah yang saya temui sepeninggal Siem Reap dengan sawah-sawah dan
pohon palem sebagai pembatas sawah, sisa perjalanan menuju Phnom Penh tidak
begitu menarik karena pemandangan yang gersang, penuh debu dan jalan rusak di
beberapa tempat. Dan seperti di Indonesia juga, pemukiman semakin padat dengan
semakin dekat ke pusat kota Phnom Penh. Bahkan saya melihat 2 hingga 3 mesjid
besar dengan menara-menara indah yang menjulang tinggi di pinggir kota Phnom
Penh.
Akhirnya bus menemukan
tempat pemberhentiannya di dekat Sisowath Quay sekitar jam 2 siang. Dari atas
bus, saya sudah melihat gelagat akan dikerubuti oleh para sopir tuk-tuk saat
mengambil bagasi di tempat selebar trotoar sempit. Untuk itu saya harus
berbekal pengalaman hidup di Indonesia yang jumlah penduduk Jakarta saja sudah
melebihi penduduk seluruh negeri Cambodia ini. Yakin dan percaya diri saja
menghadapi kerumunan. Tapi usaha saya berlaku seperti orang lokal gagal, karena
saya tetap diajak berbicara bahasa Inggeris oleh sopir tuk-tuk. Ada seorang
sopir tuktuk, Sam namanya, yang kelihatannya lebih sabar, berada agak lebih ke
belakang, tidak mau mendesak dan bisa bahasa Inggris. Lagi-lagi bahasa universal
berbicara. Senyum. Singkatnya saya melakukan negosiasi harga dan saya
mendapatkan dia untuk seharian sampai besoknya. Sebenarnya tidak murah
(USD$25), tetapi sudahlah, saya mau santai menikmati Phnom Penh. Saya diantar
terlebih dahulu untuk check-in ke Landscape Hotel (dapat diskon besar dari
Agoda), Hotel masih terhitung riverside, dengan menghadap sungai Mekong-nya
yang lebar itu. Proses check-in yang cepat, dapat kamar di lantai teratas,
pemandangan luar biasa ke Sungai Mekong, kondisi kamar minimalist dengan king
size bed dan kamar mandi modern dengan amenities lengkap, tentu sangat tempting
dinikmati dahulu sebelum berjalan-jalan di kota Phnom Penh. Sehabis menyegarkan
tubuh, saya mulai berkelana. Tempat pertama yang saya datangi adalah Royal
Palace dan Silver Pagoda. The must see in Phnom Penh. Tempat ini adalah Istana
resmi kediaman Raja Cambodia dan tempat berlangsungnya acara-acara kenegaraan.
Melihat tempatnya dari luar pagar saja, belum masuk ke dalamnya, saya tahu,
saya jatuh cinta…Menurut catatan saya, Raja Cambodia sekarang adalah – His
Majesty King Norodom Sihamoni, bergelar Preah Karuna Preah Bat Samdech Preah
Baromneath Norodom Sihamoni. Wiki versi Inggeris mengatakan nama Sihamoni itu
berasal dari Sihanouk (nama ayahnya – Norodom Sihanouk, HM the King Father) dan
Monineath (nama ibunya, HM The Queen Mother). Kelihatannya mesra sekali ya….
Tapi kalau dari Wiki versi Indonesia, dicari turunan akar kata dan bahasanya,
waduh, rumit sekali… Yang paling tahu tentunya kedua orangtuanya. Sam, sang
supir tuk-tuk mengatakan bahwa saya boleh sekitar 1 jam di dalam Royal Palace
tetapi akhirnya saya tahu, saya akan berlama-lama di dalam. Saya memang
terpesona dengan keindahan Royal Palace, tamannya bagus sekali. Bentuk atap
bangunannya menurut saya lebih bagus daripada bangunan serupa di Thailand.
Karena sangat Khmer. Cantik luar biasa. Saya melangkah pelan, walaupun matahari
sore cukup panas. Ada banyak bangunan megah. Tidak puas-puasnya saya mengambil
foto-foto bangunan, taman, tanaman, lampu, gerbang, semuanya yang cantik,
termasuk cara pakai kainnya. Aktivitas pemeliharaan tetap berjalan, ada area
pemugaran, pengecatan ulang. Ada area publik dan area non-publik. Entahlah,
saya merasakan akses ke area non-publik tidak terlalu ketat. Mungkin karena
saat itu Raja sedang berada di China. Tapi saya jadi berpikir, jika untuk area
publik secantik ini, bagaimana di balik tembok istana itu, di area non-publik…Saya
melanjutkan untuk melihat Silver Pagoda, juga Temple of Emerald Buddha. Karena
di dalam gedung tidak boleh mengambil gambar, saya menikmati keheningannya saja
yang sangat luar biasa. Entah kenapa saya selalu suka dengan keheningan dengan
banyak orang di dalamnya. Betapa ingin saya duduk di karpet berlama-lama
disitu. Melihat satu per satu benda luar biasa yang menjadi koleksinya dan
menikmati kemegahan bangunan. Saya menyusuri dinding-dindingnya, merasakan
musiknya, auranya, udaranya… Menyentuh hati, menyentuh sanubari. Ada sedikit
rasa kehilangan ketika akhirnya waktu memanggil untuk meninggalkan Royal Palace
area, Temple of Emerald Buddha dan Silver Pagoda. Berada di sini seperti bisa
merasakan sentuhan jiwa Phnom Penh, dan semua yang terkait kerajaan yang
bersifat fairy tales. Saya tetap menyempatkan untuk duduk istirahat di taman
sambil minum menikmati sore yang indah dengan burung-burung merpati terbang dan
hinggap di sekitar Silver Pagoda. Sungguh kenikmatan luar biasa berada di situ.
Sambil menuju keluar, saya melewati sebuah rumah tradisional Khmer. Sejak
sampai di bumi Cambodia dan menikmati perjalanan darat dari Siem Reap ke Phnom
Penh, saya tertarik sekali untuk melihat rumah tradisional Khmer, yang serupa
dengan rumah-rumah tradisional Kalimantan dan Sumatera karena berupa rumah
panggung tinggi. Saya melihat ke dalamnya, seperti biasa, ada ruang luas yang
berfungsi sebagai dapur, juga berfungsi sebagai ruang keluarga dan tersedia
kamar kecil untuk tidur. Di kolong rumah Khmer itu, ada seorang perempuan yang
sedang menenun yang hasilnya bisa dibeli. Tekstil termasuk sutera memang termasuk
produk utama dari Cambodia. Keluar dari rumah Khmer, ada gallery foto. Surprise
juga melihat foto Bung Karno saat Cambodia Independence Day. Jadi teringat, HM
Norodom Sihanouk, The King Father memang memiliki hubungan yang dekat dengan
mantan Presiden Soekarno. Selain itu, ada foto-foto prosesi kerajaan,
acara-acara kenegaraan dan lain-lain di Cambodia. Kemudian, saya memasuki
ruangan Preah Sihamoni’ expo yang berisikan iring-iringan prosesi pengangkatan
Raja dalam bentuk boneka. Di dinding terdapat lukisan-lukisan besar. Disitu
saya baru menyadari bahwa beliau itulah Sang Raja Cambodia. Dari wajah yang
terlukis, terlihat bahwa Sang Raja memiliki campuran Eropa, yang membuatnya
sangat berbeda dari orang Khmer pada umumnya. Saya mengambil foto lukisan Sang
Raja tersebut, sambil bilang ke penjaganya, mungkin agak sedikit kurang ajar
buat ukuran di sana, He’s goodlooking… hehehe…Kemudian Sam, yang menunggu saya
di pintu keluar, menyarankan ke National Museum, tetapi ternyata sudah tutup.
Saya disarankan untuk datang pagi-pagi besoknya. Daripada menyesal, saya
sempatkan mengambil foto luarnya saja. Di dekatnya ada lapangan luas tempat
keluarga bersantai pada sore hari. Balita dengan lucunya mengejar burung-burung
merpati di lapangan, membuat merpati-merpati itu terbang ke segala arah.
Anak-anak lain memberi makan untuk burung-burung itu. Tampak di kejauhan,
deretan bendera-bendera ASEAN berkibar di tiang-tiang sepanjang jalan protokol.
Bangga rasanya melihat Sang Merah Putih berkibar di negara orang. Menimbulkan
rasa haru.Perjalanan dilanjutkan ke Wat Phnom. Kuil pelindung kota Phnom Penh
ini berada di atas bukit kecil yang penuh dengan kerimbunan pohon. Tamannya
tidak terlalu terawat. Untuk sampai ke atas, yaa… harus naik tangga. Tidak
terlalu tinggi, kira-kira hanya naik ke lantai 3 atau 4. Tiket masuk dikenakan
US$2. Setelah sampai di atas, saya kecewa karena Wat Phnom ditutup karena
sedang renovasi. Sama sekali tidak ada pemberitahuan di bawah. Beberapa bule yang
duduk ditangga dan sama-sama merasa tertipu, berseloroh satu sama lainnya…
we’re all the loser… Saya tidak percaya, sampai berputar keseluruh Wat untuk
tahu memang tidak ada celah dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Kali ini
saya setuju dengan seloroh bule-bule tadi. Walaupun demikian, untung saja masih
ada stupa besar yang bisa menjadi obat kecewa. Dan juga ada tersedia layanan
(kelihatannya bagi anak-anak saja) untuk naik gajah di taman itu. Rasanya lucu
juga, melihat gajah bebas jalan-jalan di taman.
Matahari semakin condong
ke ufuk Barat. Rencana ke Central Market, yang arsitekturnya sangat menarik,
akhirnya batal karena kelihatan waktunya tidak tepat untuk berbelanja atau
mengambil foto. Selanjutnya, setelah berkunjung ke sebuah mesjid internasional
yang terletak di pinggir sebuah danau kecil tetapi sayang kurang terawat, perut
mulai berontak minta diisi. Baru sadar, pagi tadi hanya makan omelette dan
spaghetti sisa kemarin malam di hotel di Siem Reap dan waktu makan siang
terlewatkan. Karena hari ini adalah malam terakhir saya di bumi Cambodia, maka
seperti biasa, saya memperbolehkan diri untuk makan malam dengan sedikit
berlebih. Setelah berputar-putar mencari resto yang tepat, dan saya beruntung
bisa melihat kesibukan Phnom Penh menjelang malam, akhirnya Sam menghentikan
tuk-tuk di Malaysian Restoran. Halal. Saya senang dengan rekomendasi ini dan
mengajak Sam untuk makan malam setelah sesiangan mengantar kemana-mana. Di
resto itu, ngobrol seru-lah saya, Sam dan yang punya restoran dengan berbagai
bahasa yang bercampur-campur, Bahasa Inggeris, Khmer, Indonesia aksen Malay
hahaha…
Tadinya saya masih
merencanakan untuk jalan-jalan sepanjang pinggir Sungai Mekong yang terkenal
happening di Phnom Penh, tetapi untuk kesana macet sekali dan badan sudah tidak
terlalu segar. Godaan berendam di hotel lebih menarik daripada jalan-jalan
sendirian. Saya menyisakan jalan-jalan itu untuk dijadikan alasan bisa kembali
lagi ke Phnom Penh.
Keesokan harinya, my
last day in Phnom Penh, saya memulai dengan sarapan lengkap (termasuk
memasukkan 2 roti dalam plastik untuk bekal hehe). Dari tempat sarapan saya
bisa menyaksikan Royal Palace dan Silver Pagoda dan panorama kota termasuk juga
Mekong River yang lebar itu.
Meninggalkan hotel, Sam
mengantar saya ke National Museum. Wow… isinya sangat bagus buat yang suka
sejarah. Peninggalan-peninggalan berupa patung, barang-barang pra sejarah,
artefak-artefak, antik, semuanya menarik hati. Sayang, seperti umumnya yang
berlaku di museum, (kecuali di Indonesia, mungkin!!) tidak diperkenankan untuk
difoto, demi menjaga umur dan keberlangsungan barang-barang Museum. Namun saya
bisa mengambil foto taman-tamannya saja yang merupakan area terbuka di dalam
area museum. Lagi-lagi saya menikmati dengan hanya duduk di taman menyaksikan kupu-kupu,
pengunjung dan dekorasi Khmer di Museum ini. Ternyata posisi tempat saya duduk
ini memang luar biasa. Seorang pelukis kulit putih membuka peralatannya di
dekat saya dan langsung tampak asyik memulai memindahkan pemandangan indah ke
dalam kanvasnya. Atap National Museum ini memang cantik, sangat Khmer,
mengingatkan saya pada Royal Palace. Di Museum ini saya juga tertarik pada
pintu kayunya yang tampak sangat kokoh, tinggi dan berat, penuh dengan ukiran.
Luar biasa menggoda hati. Di halaman Museum tersebar banyak patung dan
simbol-simbol budaya, di antaranya, di dekat pintu masuk, ada seperangkat
Lingga-Yoni lengkap yang membuat saya tersenyum karena tahu sedikit artinya… :)
Melanjutkan perjalanan,
saya menyempatkan datang untuk ke Independence Monument atau dalam bahasa Khmer
disebut Vimean Ekareach, terletak di Sihanouk Blvd. Cambodia merdeka dari
kolonialisme Perancis pada tahun 1953. Bentuk dan gaya bangunan Independence Monument
ini dapat dilihat pada bangunan Bakan di Angkor Wat, walaupun kalau kita lihat
secara sekilas, monumen ini sepertinya mirip dengan Candi Bajang Ratu di
Trowulan. Namanya juga Indepence Monument, jadi pastilah ramai saat perayaan
kemerdekaan nasional.
Phnom Penh, walaupun
digempur peperangan dan konflik politik berkepanjangan termasuk penghancuran
Phnom Penh semasa Khmer Merah, saya melihat, dengan perkembangan ekonomi yang
baik, Phnom Penh memiliki potensi berkembang cepat, bersiap diri, berdandan dan
sepertinya akan menyusul tempat-tempat lain di Asia sebagai tempat tujuan
wisata.Tempat Wisata Phnom Penh